PENDAMPINGAN PASTORAL KEPADA ORANG YANG GAGAL MENIKAH DI JEMAAT TANDUNG
OLEH:
RATNASARI RANTE LILING
2020175518
D
TEOLOGI KRISTEN
INSTITUT AGAMA KRISTEN NEGERI (IAKN) TORAJA
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Gereja dapat diartikan sebagai persekutuan orang Kristen atau perhimpunan umat Kristen. Di dalam gereja kita mengenal adanya Pastoral yang disebut juga dengan “gembala”. Dalam kehidupan gerejawi kita, hal ini merupakan tugas pendeta yang harus menjadi gembala bagi jemaat atau domba-Nya. pengistilahan ini dihubungkan dengan diri Yesus Kristus dan karyaNya sebagai “Pastor Sejati” atau “Gembala Yang Baik” (Yoh. 10). Ungkapan ini mengacu pada pelayanan Yesus yang tampa pamrih, bersedia memberikan pertolongan dan pengasuhan terhadap para pengikut-Nya. Oleh sebab itu, tugas pastoral bukan hanya tugas resmi atau monopoli para pastor/pendeta saja, tetapi juga setiap orang yang menjadi pengikut-Nya.
Seorang Pastor memiliki tugas dan tanggungjawab untuk merawat atau memelihara. sikap pastoral harus mewarnai semua sendi pelayanan setiap orang sebagai orang-orang yang sudah dirawat dan diasuh oleh Allah secara sungguh-sungguh. Semua orang adalah domba-domba Allah. Maka dalam karya Pastoral, hendaklah diingat bahwa kita dipercayakan untuk menggembalakan domba-domba Allah, yakni sesama kita manusia. Salah satu istilah pelayanan pastoral adalah penggembalaan yang merupakan suatu istilah struktural untuk mempersiapkan para rohaniawan untuk tugas pastoral atau tugas penggembalaan.
Pendampingan atau Penggembalaan merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk menolong setiap orang bagaimana ia menyadari akan hidupnya dan hubungannya dengan Allah, dan mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya. Sebagai pelayan ia melakukan cara agar perkataannya itu dapat diterima oleh setiap anggota jemaat, dan bagaiamana itu mempengaruhi kepribadian, yaitu pikiran perasaan, dan pengakuan mereka serta yang terpenting juga yang harus ditekankan ialah bagaimana membangun relasi antara pelayan dan anggota jemaatnya.
Di dalam Gereja paling penting ialah pelayanan atau pendampingan, tetapi pelayanan itu bukan hanya dipercayakan kepada pelayan-pelayan khusus (Pendeta, Penatua, dan Diaken) saja. Namun ditugaskan kepada seluruh jemaat, karena itu harus ditata atau diatur dengan baik sehingga nampak bahwa gereja dapat menunaikan tugasnya dengan baik.
Dalam gereja tentu setiap anggota jemaat memiliki keinginan untuk menikah. Setiap orang mempunyai prinsip yang berbeda-beda dalam memutuskan untuk menikah dan tentunya memikirkan bagaimana proses pernikahannya. Hampir setiap orang berkeinginan untuk membentuk sebuah keluarga dan rumah tangga yang bahagia dengan orang yang dicintainya, dengan orang yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka, orang yang telah banyak berkorban bagi dirinya dan telah menjalin hubungan begitu lama, banyak kisah yang telah dilalui bersama,dan menurutnya itu adalah pilihan yang tepat dan sudah cocok dengannya, usianya sudah matang untuk berkeluarga, sudah mendapatkan pekerjaan, sehingga mengambil satu keputusan untuk menikah dan kemudian meminta restu dari orang tua dan pihak keluarga dan kemudian membuat rencana untuk perayaan pernikahan itu. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk melakukan suatu upacara pernikahan yang istimewa dan meriah tetapi kadangkala ada juga yang ingin melakukan upacara pernikahan dengan sederhana saja. Oleh sebab itu, setiap pasangan yang hendak menikah harus mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam perayaan pernikahan dan agar dapat berjalan dengan lancar, mereka harus rela mengerahkan segenap daya, tenaga dan dana. Proses perayaan itu tentunya akan segera berlalu, namun mereka harus mempersiapkannya dengan sebaik mungkin demi tercapainya keinginan mereka. Akan tetapi, realita yang terjadi yang dialami oleh seorang anggota jemaat di jemaat Tandung seiring dengan berjalannya waktu dalam proses mempersiapakan perayaan pernikahan itu muncul hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan terjadi, sehingga pada akhirnya Gagal untuk Menikah.
Dalam gereja tentu setiap anggota jemaat memiliki keinginan untuk menikah. Setiap orang mempunyai prinsip yang berbeda-beda dalam memutuskan untuk menikah dan tentunya memikirkan bagaimana proses pernikahannya. Hampir setiap orang berkeinginan untuk membentuk sebuah keluarga dan rumah tangga yang bahagia dengan orang yang dicintainya, dengan orang yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka, orang yang telah banyak berkorban bagi dirinya dan telah menjalin hubungan begitu lama, banyak kisah yang telah dilalui bersama,dan menurutnya itu adalah pilihan yang tepat dan sudah cocok dengannya, usianya sudah matang untuk berkeluarga, sudah mendapatkan pekerjaan, sehingga mengambil satu keputusan untuk menikah dan kemudian meminta restu dari orang tua dan pihak keluarga dan kemudian membuat rencana untuk perayaan pernikahan itu. Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk melakukan suatu upacara pernikahan yang istimewa dan meriah tetapi kadangkala ada juga yang ingin melakukan upacara pernikahan dengan sederhana saja. Oleh sebab itu, setiap pasangan yang hendak menikah harus mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam perayaan pernikahan dan agar dapat berjalan dengan lancar, mereka harus rela mengerahkan segenap daya, tenaga dan dana. Proses perayaan itu tentunya akan segera berlalu, namun mereka harus mempersiapkannya dengan sebaik mungkin demi tercapainya keinginan mereka. Akan tetapi, realita yang terjadi yang dialami oleh seorang anggota jemaat di jemaat Tandung seiring dengan berjalannya waktu dalam proses mempersiapakan perayaan pernikahan itu muncul hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan terjadi, sehingga pada akhirnya Gagal untuk Menikah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pernikahan?
2. Bagaimana pendampingan pastoral bagi orang yang gagal menikah di Jemaat Tandung?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Pengertian Pernikahan!
2. Untuk mengetahui pendampingan pastoral bagi orang yang gagal menikah di Jemaat Tandung!
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pernikahan
Dalam KBBI, Pernikahan adalah perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami istri secara resmi dengan tujuan untuk membentuk sebuah keluarga atau sebuah rumah tangga yang bahagia.
Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri yang berdasar akan Kristus atau berpusat pada Yesus Kristus yang adalah Tuhan atas pernikahan itu. Pernikahan bisa menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan, sedikit membahagiakan, atau sama sekali itu adalah hal yang tidak membahagiakan terjadi dalam hidup. Allah merancang dua jenis kelamin yang berbeda agar saling melengkapi satu dengan yang lain. Allah ingin laki-laki dan perempuan itu bersatu dalam pernikahan agar dapat mengisi setiap kekurangan masing-masing. Manusia dalam dunia ini diciptakan dengan jenis kelamin yang berbeda yakni laki-laki dan perempuan yang keduanya memiliki daya tarik satu sama lain untuk hidup bersama dan terjadilah suatu pernikahan antara manusia yang berbeda.
Pernikahan menyangkut komitmen seumur hidup antara pasangan untuk membentuk lembaga keluarga. Komitmen berarti keinginan yang kuat untuk tetap mempertahankan hubungan pernikahan dalam keadaan apapun. Komitmen seumur hidup artinya komitmen yang tidak bisa dibatalkan, apapun alasannya karena pernikahan bukanlah suatu kontak hukum yang sewaktu-waktu bisa di batalkan. Komitmen ini mendorong pasangan untuk terus-menerus menjaga kelanggengan rumah tangga, kesucian rumah tangga, saling mengahargai pasangan, merawat cinta kasih, membina kerja sama dan terus membangun komunikasi yang intim agar pernikahan tetap rukun dan bahagia. Menikah merupakan titik awal dari kehidupan berkeluarga dan tujuan yang ditetapkan dalam pernikahan akan berdampak pada kehidupan pernikahannya secara keseluruhan. Pernikahan yang harmonis adalah dambaan setiap orang yang menikah. Kehidupan pernikahan merupakan langkah awal untuk beradaptasi dan saling memahami. Akan tetapi, dalam hal tertentu pernikahan bisa saja dibatalkan atau gagal, seperti yang dialami oleh seorang anggota jemaat di jemaat Tandung.
B. Pendampingan Pastoral Bagi Orang Yang Gagal Menikah di Jemaat Tandung
Pendampingan berasal dari kata kerja mendampingi dimana mendampingi merupakan suatu kegiatan menolong orang lain karena suatu penyebab perlu untuk di dampingi. Istilah pendampingan memiliki arti kegiatan kemitraan, bahu membahu, menemani, berbagi dengan tujuan saling menumbuhkan dan mengutuhkan. Pendampingan memiliki aspek yang lebih luas yang dapat mencakup pula pemberian nasihat dan bimbingan, oleh sebab itu pengistilahan tersebut sebaiknya mempertimbangkan berbagai macam latar belakang pelayanan. Pendampingan mempunyai spektrum yang menyeluruh atau holistis, bermuara pada pengutuhan kehidupan si penderita yang semula hidupnya telah tercabik karena berbagai krisis. Pastoral dalam kehidupan gerejawi kita hal ini merupakan tugas seorang Pendeta yang harus menjadi gembala bagi jemaat-Nya. Istilah ini dihubungkan dengan diri Yesus Kristus dan karya-Nya sebagai “Pastor sejati” atau “Gembala yang baik” (Yoh. 10) juga mengarah kepada pelayanan Yesus yang tanpa pamrih, bersedia memberikan pertolongan dan pengasuhan terhadap para pengikut-Nya dan bahkan rela mengorbankan nyawa-Nya.
Di dalam gereja kita sering mendengar mengenai penggembalaan bahkan di dalam Alkitab sendiri secara khususnya di Yohanes 21:15-16 dan 18 Yesus berpesan kepada Petrus, supaya menggembalakan domba-Nya. Pekerjaan sebagai seorang gembala sudah tidak asing lagi dan menjadi hal biasa yang sering terlihat. Seorang gembala akan menuntun, membimbing dan mengarahkan domba-dombanya ke tempat yang subur yang banyak rumputnya ketika berada di tempat yang kurang subur atau sedikit rumput yang dapat di makan oleh domba-domba. Apabila seorang gembala membiarkan domba-dombanya, tentunya akan menjadi kelaparan dan tersesat dan tidak akan sampai pada tempatnya.
Dalam sebuah gereja pada umumnya tidak semua anggota jemaat memiliki sikap yang manis dan mudah untuk terbuka kepada semua orang, namun sebaliknya. Banyak yang lebih menutup diri atau tidak mau terbuka ketika menghadapi masalah. Terkadang lebih mengikuti keinginiannya sendiri dan tidak mau mendengar bahkan dia lebih memilih untuk tidak ke gereja kalau hari minggu. Mereka suka mencari jalannya sendiri hingga tersesat, seperti domba dalam Matius 18:12-14 itu. Penggembalaan dalam sebuah jemaat sebagaimana yang diungkapkan dalam Yohanes 21:15-19 yang menceritakan kepada kita bagaimana Yesus berpesan kepada Petrus untuk memelihara domba-domba-Nya, yang akan ditinggalkan-Nya. Yesus sendiri mengibaratkan atau menyamakan pelayanan kepada saudara-saudara kita dalam diri-Nya itu, dengan “penggembalaan”. Maka hendaknya itu harus dijaga, dipelihara, dibimbing dan diselamatkan dari bahaya.
Dalam Pendampingan jemaat, yang harus dilakukan oleh gembala atau pendamping ialah: Gembala harus mencari dan mengunjungi anggota jemaatnya dan mendampingi dengan terus membimbing, mendamaikan atau memperbaiki hubungan, menopang atau menyokong, menyembuhkan, mengasuh serta mengutuhkan. Hal yang demikian dapat dilakukan melalui pertemuan biasa atau melalui khotbah yang pastoral kepada Jemaat dalam setiap situasi dimana seorang pelayan yang berpresfektif menggembalakan yang mana sesungguhnya ia ingin menolong seseorang yang menderita kearah pengutuhan, langkah demi langkah. Sehingga orang yang menderita itu dapat menyadari bahwa sesungguhnya masih ada orang yang peduli dengan dirinya. Cara seperti ini telah diterapkan oleh seorang pelayan dalam Jemaat di jemaat Tandung. Mereka berusaha dengan baik untuk memberikan pendampingan kepada anggota jemaat yang membutuhkan pertolongan dalam hal ini bagi orang yang gagal nikah.
Melakukan pendampingan tentunya mempunyai suatu tujuan, tujuan dari pendampingan tersebut ialah pertama membimbing, dimana bila seseorang berjalan dan tersesat maka ia perlu dibimbing untuk menemukan jalan yang benar. Orang yang didampingi, ditolong untuk memilih atau mengambil keputusan tentang apa yang akan ditempuh atau apa yang menjadi masa depannya. Pengambilan keputusan tentang masa depan ataupun mengubah dan memperbaiki tingkah laku tertentu atau kebiasaan tertentu, tetap di tangan orang yang didampingi atau penderita. Kedua , mendamaikan atau memperbaiki hubungan di mana salah satu kebutuhan manusia untuk hidup dan merasa aman adalah dengan adanya hubungan yang baik dengan sesama, apakah itu dengan orang yang dekat: suami-istri, anak-anak, menantu-mertua, maupun dengan orang banyak seperti kelompok sebaya, masyarakat dan lain-lain. Apabila hubungan tersebut terganggu maka terjadilah penderitaan yang berpengaruh pada masalah emosional. Dalam situasi yang demikian maka pendampingan pastoral berfungsi sebagai perantara untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan terganggu. Ketiga menopang, seringkali kita diperhadapkan kepada seseorang yang tiba-tiba mengalami krisis mendalam (kehilangan, kematian orang-orang yang dikasihi, dukacita dan lain-lain) dan seringkali pada saat itukita tidak dapat berbuat banyak untuk menolong dan dalam keadaan ini bukan berarti kita tidak dapat melakukan pendampingan, tetapi kehadiran kita adalah untuk membantu mereka untuk terus bertahan dalam situasi krisis yang bagaimanapun beratnya. Sokongan berupa kehadiran dan sapaan yang meneduhkan dan sikap yang terbuka, akan mengurangi penderitaan mereka yang begitu memukul. Keempat menyembuhkan, secara otomatis, apabila seseorang sakit atau menderita maka ia akan berpikir tentang obat untuk penyembuhan dalam hal pendampingan pastoral, menyembuhkan ini penting dalam artian bahwa melalui pendampingan yang berisis kasih sayang, rela mendengarkan seluruh keluhan batin, dan kepedulian yang tinggi akan membuat seseorang yang sedang menderita akan mengalami rasa aman dan kelegaan sebagai pintu masuk ke arah penyembuhan yang sebenarnya dan pada saat ini, hal yang dianggap dapat menolong adalah bagaimana pendamping melalui pendekatannya mengajak penderita untuk mengungkapkan perasaan batinnya yang tertekan. Melalui interaksi ini kita membawanya pada hubungan imannya dengan Tuhan melalui doa, pembacaan alkitab sebagai sarana penyembuhan batin dan dapat membantu penyembuhan fisik. Kelima mengasuh, hidup berarti bertumbuh dan berkembang. Perkembangan itu meliputi aspek emosional, cara berfikir, motivasi dan kemauan, tingkah laku, kehidupan rohani, dalam interaksi dan sebagainya. Demikianlah dalam hal menolong mereka yang memerlukan pendampingan perlu dilihat apa yang menjadi potensi dan dapat menumbuhkembangkan kehidupannya sebagai kekuatan yang dapat diandalkannya untuk melanjutkan kehidupan. Keenam mengutuhkan, pendampingan ini merupakan tujuan yang paling utama karena dapat mengutuhkan kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya, yakni fisik, sosial, mental, dan spiritual. Bila mengalami penderitaan, aspek-aspek itu tercabik. Lawan dari keutuhan adalah kehancuran, kerusakan, keretakan, dan kebobrokan yang menyebabkan penderitaan. Oleh karena itu yang sangat penting dalam hal pendampingan pastoral adalah bahwa hal ini tidak dapat dipisahkan dari pelayanan sosial dan pengembangan masyarakat.
Di dalam suatu Jemaat secara khusus di jemaat Tandung sangat penting untuk memberikan pendampingan Pastoral kepada orang yang gagal menikah karena telah mengalami penderitaan batin. Pernikahan yang gagal itu telah merusak hubungan yang baik menjadi tidak baik, membuat batin terluka dan tertekan sehingga sangat penting kita menyadari bahwa emosi atau perasaan yang tertekan terkadang tidak dapat terungkapkan melalui kata-kata atau ungkapan perasaan. Melalui pelayanan pastoral harus didasarkan pada pengakuan bahwa Allah menciptakan manusia untuk membangun relasi dengan Allah dan dengan ciptaan lainnya. Relasi itu akan tetap tercipta dengan baik jika manusia saling mengerti dan menghargai. Kehadiran pelayanan pastoral yang dilakukan dalam berbagai persoalan dan masalah yang beragam akan sangat menolong. Kepedulian terhadap perkawinan dan keluarga oleh seorang pastor akan sangat membantu dalam menyikapi berbagai persoalan. Terhadap masalah pernikahan yang gagal harus disiapkan beberapa tahapan pelayanan. Pendampingan yang harus lebih diarahkan kepada soal Membangun kepercayaan, membiarkan umat untuk mengungkapkan perasaannya, merumuskan permasalahan, membangun kesediaan untuk menerima dengan iklas, penyadaran akan kehidupan masa depan. Melalui pelayanan dan pendampingan pastoral ini dapat membantu umat untuk menyadari tentang dirinya. Pendampingan pastoral di sini ialah dapat mendorong seseorang untuk kembali memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, menyadari dirinya sendiri dan memperbaiki relasinya dengan orang lain. Sebagai umat percaya maka setiap masalah yang dihadapi harus diterima dengan iman yang sungguh-sungguh kepada Tuhan sehingga setelah pendampingan pastoral dilakukan kepada salah satu anggota jemaat di jemaat Tandung yang telah gagal maka diharapkan agar tidak putus harapan, harus menerima dengan lapang dada, sibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan percaya bahwa ada rencana yang lebih baik di depan.
PEMAPARAN HASIL PENELITIAN
Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan manusia. Hal ini tejadi dibelahan bumi manapun dan terjadi kapanpun. Pernikahan itu sendiri merupakan proses bersatunya dua insan yang saling berkomitmen. Namun, banyak cerita calon pengantin gagal menikah karena ada beragam alasannya, ada yang memang karena masalah masing-masing pasangan, atau urusan orang ketiga seperti konflik dengan orang tua. Seperti yang terjadi di jemaat Tandung, menurut informasi yang telah saya dapatkan, salah seorang anggota jemaat yaitu NM akan menikah karena telah menjalin asmara yang cukup lama dengan L, kurang lebih 4 tahun dan mengingat usia yang sudah cukup matang, sudah dekat dengan keluarga dan membuatnya ingin berada pada tahap yang lebih serius yaitu pernikahan. Setelah itu NM dan L kemudian meminta persetujuan dari orang tua dan orang tua pun setuju dan berharap agar acara pernikahannya secepatnya dilaksanakan karena sudah lama orang tua menginginkan NM dan L untuk menikah. Jauh hari sebelumnya, sebelum meminta restu kepada orang tua, memang telah membuat rencana mengenai proses pernikahan itu.
NM mengatakan bahwa setiap orang pasti memiliki keinginan untuk melakukan suatu upacara pernikahan yang istimewa dan meriah tetapi kadangkala ada juga yang ingin melakukan upacara pernikahan dengan sederhana saja. Oleh sebab itu, setiap pasangan yang hendak menikah harus mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam perayaan pernikahan dan agar dapat berjalan dengan lancar, harus rela mengerahkan segenap daya, tenaga dan dana. Proses perayaan itu tentunya akan segera berlalu, namun harus dipersiapkannya dengan sebaik mungkin demi tercapainya keinginan mereka dan persiapan dalam pernikahan itu adalah satu hal yang paling menentukan kebahagiaan dalam pernikahan. Hal ini jugalah yang menjadi keinginan dan harapan kami sebelumnya, kami ingin melaksanakan sebuah pernikahan yang istimewa, membuat suatu momen yang akan selalu dikenang nantinya sehingga kami harus mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Satu minggu kemudian, pertemuan keluarga segera di laksanakan dan dalam pertemuan itu keluarga kedua ini berkumpul membicarakan dan menetapkan tanggal yang tepat untuk pelaksanaan acara pernikahan. Setelah menentukan waktunya dan menetapkan tempat pelaksanaannya, kemudian melanjutkan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan nantinya. NM dan L kemudian mengurus surat-suratnya, membagi undangan, membagi seragam kepada keluarga dekat dan teman dekat, sudah pesan katering, baju pengantin, salon dan lain sebagainya, semuanya telah dipersiapkan. NM mengatakan ternyata di saat menentukan keputusan untuk segera menikah, persiapan menuju hari H ternyata tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapakan. Meskipun telah menjalin hubungan yang cukup lama dan sudah memutuskan untuk berada pada tahap yang lebih seruis, tetapi pada kenyataannya, hubungan yang lama dan persiapan yang matang tidak akan menjamin untuk melangkah kepelaminan.
NM mengatakan bahwa setiap orang pasti memiliki keinginan untuk melakukan suatu upacara pernikahan yang istimewa dan meriah tetapi kadangkala ada juga yang ingin melakukan upacara pernikahan dengan sederhana saja. Oleh sebab itu, setiap pasangan yang hendak menikah harus mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan dalam perayaan pernikahan dan agar dapat berjalan dengan lancar, harus rela mengerahkan segenap daya, tenaga dan dana. Proses perayaan itu tentunya akan segera berlalu, namun harus dipersiapkannya dengan sebaik mungkin demi tercapainya keinginan mereka dan persiapan dalam pernikahan itu adalah satu hal yang paling menentukan kebahagiaan dalam pernikahan. Hal ini jugalah yang menjadi keinginan dan harapan kami sebelumnya, kami ingin melaksanakan sebuah pernikahan yang istimewa, membuat suatu momen yang akan selalu dikenang nantinya sehingga kami harus mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. Satu minggu kemudian, pertemuan keluarga segera di laksanakan dan dalam pertemuan itu keluarga kedua ini berkumpul membicarakan dan menetapkan tanggal yang tepat untuk pelaksanaan acara pernikahan. Setelah menentukan waktunya dan menetapkan tempat pelaksanaannya, kemudian melanjutkan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan nantinya. NM dan L kemudian mengurus surat-suratnya, membagi undangan, membagi seragam kepada keluarga dekat dan teman dekat, sudah pesan katering, baju pengantin, salon dan lain sebagainya, semuanya telah dipersiapkan. NM mengatakan ternyata di saat menentukan keputusan untuk segera menikah, persiapan menuju hari H ternyata tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapakan. Meskipun telah menjalin hubungan yang cukup lama dan sudah memutuskan untuk berada pada tahap yang lebih seruis, tetapi pada kenyataannya, hubungan yang lama dan persiapan yang matang tidak akan menjamin untuk melangkah kepelaminan.
Pernikahan itu bukan hanya menyatukan sepasang kekasih saja, tetapi juga menyatukan dua keluarga yang berbeda, dua sifat atau karakter yang berbeda dan juga ketika sudah memutuskan untuk menikah, harus bisa untuk saling mengerti kondisi satu sama lain, saling menghormati, saling menghargai, harus siap menerima apa adanya, bukan karena ada apanya.
Pernikahan ini gagal karena Pada saat mempersiapkan pernikahan, NM dihadapkan pada kondisi yang penuh tekanan yang membuatnya ragu dan tidak mampu menghadapinya dimana pada saat itu pasangannya menuntut nafkah yang besar, mahar yang besar, melarang untuk memberi uang kepada orang tua dan pada saat itu orangtua NM sangat membutuhkan uang karena memang sudah lama berobat jalan dan itu membutuhkan biaya yang lumayan banyak, mereka sudah tidak mampu untuk mencari uang dan kamilah anak-anaknya yang diharapkan, tidak menghargai orang tua, tidak menerima keadaan orang tua dan keluarga dan saat itu NM tinggal di rumah L karena ada banyak hal yang harus diurus dan diselesaikan bersama-sama sebelum hari H dan ia melakukan kekerasan terhadap NM dengan memukul dan melemparinya dengan asbak rokok pada saat NM sedang duduk sebab salah seorang saudara menelpon dan meminta uang untuk biaya berobat orang tua. NM tidak nyaman kemudian NM meminta kepada calon ibu mertuanya untuk memberi nasihat kepada anaknya akan tetapi respon dari calon ibu mertua mengatakan bahwa “ bagaimanapun kita berbicara kepada dia, dia tidak akan mendengarkannya karena begitulah sifat dia”. Pada keadaan atau kondisi yang penuh tekanan tersebut, watak atau sifat asli mulai muncul dan dengan munculnya karakter asli itu membuat NM ragu untuk melanjutkan pernikahan dan merasa bahwa itu bukanlah karakter orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidup, NM mulai merenung, memikirkan dengan matang sehingga mengambil suatu keputusan untuk membatalkan pernikahannya dua bulan sebelum hari H meskipun rencana pernikahannya sudah 90 persen di lakukan, semuanya sudah siap. NM Tidak peduli lagi dengan semuanya itu dan tidak peduli apa kata orang, lebih baik dibatalkan saja walaupun persiapannya sudah matang, banyak biaya, tenaga dan pikiran yang telah di korbankan, banyak yang menganggap bahwa itu kerugian besar, tetapi daripada dilanjutkan dan gagal di tengah jalan akan lebih berat, akan lebih banyak tantangan dan rintangannya, keluarga akan malu, jadi lebih baik gagal diawal daripada gagal ditengah jalan. NM telah berkonsultasi dengan pendeta yang ada di jemaat Tandung dan telah menerima semuanya itu dengan lapang dada dan menatap masa depan yang lebih baik kedepannya. Dari hal ini kita dapat belajar bahwa memang setiap kita manusia tentu memiliki keinginan untuk menikah. Akan tetapi kita harus tahu bahwa pernikahan itu bukanlah suatu hal yang mudah, banyak proses yang harus dilalui untuk mencapainya. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan untuk menikah maka harus betul-betul memiliki kesiapan mental, perlu untuk mengetahui sifat dan karakter setiap pasangan kita.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pernikahan adalah salah satu tahapan dalam kehidupan manusia yang tejadi dibelahan bumi manapun dan terjadi kapanpun. Pernikahan itu sendiri merupakan proses bersatunya dua insan yang saling berkomitmen untuk membentuk sebuah lembaga keluarga. Pernikahan bisa saja menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan, sedikit membahagiakan, atau sama sekali itu adalah hal yang tidak membahagiakan terjadi dalam hidup. Dalam hal tertentu pernikahan bisa saja gagal karena dipengaruhi oleh berbagai macam persoalan oleh karena kehidupan kita manusia tidak pernah luput dari persoalan krisis dan keretakan. Ketika sebagian dari kehidupan kita mencapai keutuhan dan menimbulkan kepuasan, apa yang diharapkan dapat kita capai, akan tetapi bagian yang lainnya mengalami keretakan, kegagalan dan kehancuran. Oleh sebab itu, pendampingan pastoral sangat penting untuk menunjang proses pengutuhan manusia dalam semua aspek kehidupan.
B. Saran
Pernikahan bukanlah sekedar rangkaian seremonial ritual, tetapi yang terpenting ialah kesadaran spiritual dan komitmen untuk saling memperlengkapi. Karena itu, sangat penting untuk mengetahui karakter pasangan kita dengan baik sebelum memutuskan untuk menikah. Kenalilah sifat, karakter, kepribadiannya sehingga jika suatu saat sifat aslinya muncul, kita tidak akan kaget dan sudah bisa menerimanya dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Beek, Aart. V. 2007. Pendampingan Pastoral. Jakarta: Gunung Mulia.
Bons-Storm , M. 2006. Apakah Penggembalaan Itu?. Jakarta: Gunung Mulia.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Natael, Jenny. 1996. Kebahagiaan pernikahan Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.
Wawancara dengan NM pada tanggal 15 April 2020